Rotasi bumi itu bumi berputar pada porosnya, revolusi bumi adalah bumi beredar pada orbitnya mengelilingi matahari. Itulah sebuah rumus yg dikatakan pada ilmu astronomi, kita pun mengamininya.
Tiap malam jum’at mungkin kita sering tadarusan (*bagi muslim) membaca surat Yasin tapi apakah sekali-kali kita menyempatkan pada malam-malam lainnya untuk menelaah yang terdapat pada surat Yasin.
Pertanyaannya, apa hubungannya Surat Yasin dengan dengan revolusi dan rotasi bumi.?
Mungkin ahli astronomi kita juga tidak mengetahui hal ini bahwa sebenernya TIDAK ada Revolusi bumi, tetapi yang ada sebenernya Revolusi matahari terhadap bumi.
Hal ini terkandung dalam QS. Yasin : 37-40
وَآيَةٌ لَهُمُ اللَّيْلُ نَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَإِذَا هُمْ مُظْلِمُونَ
37. dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.
وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ
38. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
39. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah(tempat-tempat), sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua[1].
لا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.
[1] Maksudnya: bulan-bulan itu pada Awal bulan, kecil berbentuk sabit, kemudian sesudah menempati manzilah-manzilah(tempat-tempat), Dia menjadi purnama, kemudian pada manzilah terakhir kelihatan seperti tandan kering yang melengkung.
Pada ayat 38 “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya”, dan ayat 40 “tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya”. Sudah jelas Al Qur'an mengemukakan bahwa matahari memiliki garis edar (orbit) mengelilingi bumi.
Suatu yang haq hanya datang dari Allah SWT.
Selengkapnya...
Bayangkan kalau hari ini, detik ini juga, seorang ajudan Presiden Republik Indonesia, menghubungi kita dan menyatakan, “Anda di tunggu di Istana. Bapak Presiden meminta saya untuk segera mendampingi anda untuk makan siang di istana Merdeka.” Melambung setinggi mungkin, kira-kira begitulah perasaan awam seperti kita seandainya itu benar terjadi.
Memori otak akan menyiapkan ruang seluas mungkin untuk mengingat setiap detik momen itu dimulai hingga detik berakhirnya jamuan tersebut. Pikiran senantiasa mengingatkan apa saja yang harus disampaikan mulut untuk rajin menceritakan momen bahagia tersebut. Bahkan tiap detilnya. Kalau sudah begini tiba-tiba kita diserang amnesia sementara. Lupa utang bulan lalu di warung sebelah, lupa pakaian belum dicuci, lupa janji sama kawan, bahkan lupa ternyata tak punya satu buah jas-pun, untuk dipakai ke Istana Presiden. Lupa banyak hal kecuali undangan itu.Sumringah.
Tapi, mari kita akui dengan jujur, bagaimana perasaan kita kalau yang mengundang adalah Sang Maha Pemilik Alam Semesta, lewat muadzim yang mengumandangkan adzan, mengundang kita untuk bersujud di rumah-Nya, masjid atau mushola di dekat rumah atau kantor. Saat ini juga. Apakah sama kuatnya perasaan itu ? Masih beratkah langkah-langkah kita, padahal yang mengundang adalah Dia yang menciptakan kita dan memberi nafas Presiden Indonesia ? tak seperti pergi ke Istana dimana pakaian yang harus kita kenakan harus formal dan diatur oleh protokoler, Allah tidak meminta hambanya untuk memakai jas untuk datang ke masjid, cukup pakaian yang menutup aurat.Tak peduli levis atau gamis.
Pertemuan yang pertama kali dengan Bapak Presiden haruslah berkesan, karena boleh jadi itulah yang terakhir. Presiden kan pejabat, so pasti sibuk dong. Untuk itu persiapan sebaik mungkin, patutlah dilakukan. Dari mulai pakaian yang dikenakan, minyak wangi yang disemprotkan, hingga apa yang hendak disampaikan saat Presiden menyalami tangan anda. Apakah cukup diam dengan takzim sambil terus menyunggingkan senyum, atau sedikit berbasa-basi, menanyakan kabar, atau … ah berharap Presiden yang bertanya, jadi jawabanlah yang harus disiapkan.
Allah tidak memaksa hambanya untuk pakai minyak wangi, tak juga berbasa-basi, karena janji Allah benar adanya. Allah selalu menunggu (hamba-NYA). Saat hati kita mengabarkan kesungguhan untuk datang kepada-NYA, Allah “berlari” menyambutnya. Setiap hari, setiap waktu selama nafas masih dikandung badan. Bahkan Allah menyebar undangan khusus di sepertiga malam untuk hamba-NYA yang hendak berkeluh kesah, mengadu, bahkan menangis sekalipun.Sepuas hati kita. Allah Maha Mendengar, Mahanya Kasih Sayang. Tak perlu protokoler, bahkan jika hambanya mampir setiap saat di rumah-NYA, Allah tak merasa terganggu. Allah justru senang sekali. Allah bisa tambah sayang sama hambanya. Tak perlu takut untuk salah kata, Allah Maha Dekat, sedekat urat nadi, Allah Maha Tahu.
Diundang ke Istana untuk bertemu dan berbincang langsung dengan Presiden, bagi banyak orang adalah mimpi di siang bolong. Apalagi berharap Presiden mendengar 1001 keluh-kesah kita sampai berjam-jam. Kalau yang ini jangan mimpi ! Sementara, diundang ke rumah Allah adalah mimpi yang setiap hari bisa terwujud. Hampir tak ada berita yang mengabarkan ada seorang rakyat atau pejabat yang menolak undangan Presiden. Tapi kenyataan kita yang menolak undangan Allah, kita yang tak mengindahkan panggilan adzan ? Kita yang menunda-nunda undangan Allah ? Kita yang memilih lanjutkan berselimut ketimbang beranjak jamaah subuh. Kita yang sibuk kerja sampai lembur, tapi abai shalat dzuhur.
Sebaliknya, banyak kita bersungguh-sungguh pada deadlines yang ditetapkan Bos atau Dosen untuk mahasiswa/i.Menjadi bencana, begitu pandangan kita, jika gagal memenuhi deadlines. Mereka yang punya pimpinan atau dosen yang killer tentu paham.
Pernah suatu ketika Presiden SBY geram karena menangkap basah anak buahnya tertidur saat beliau berpidato. Saat itu juga Presiden menegur pejabat yang dimaksud, dan mengingatkan pada semua agar tidak terulang. Ironisnya itu kejadian kedua setelah sebelumnya, di sebuah rapat kabinet, seorang pejabat sebuah lembaga pemerintah non departemen malah asyik berbincang-bincang ketimbang memperhatikan arahan dari Presiden.
Kejadian tersebut dalam derajat tertentu dapat dibaca, seorang Presiden, dengan kedatangan kita, masih BUTUH diperhatikan, dihormati sebagaimana seorang rakyat terhadap pemimpinnya. Sama halnya perasaan kita yang ingin bertemu Presiden, hingga menjadi sumringah jika mimpi itu bisa diwujudkan. Meski sekadar bersalaman saja.
Sementara hubungan kita dengan Allah adalah hubungan seorang hamba yang membutuhkan Rabb-nya, Allah SWT. Tempat kita bergantung dan memohon doa. Allah tidak BUTUH shalat kita, bahkan andai semua mahluk di bumi ini bermufakat untuk tak lagi menyembah Allah, ke-Maha-an Allah, tidak akan berkurang. Tapi Allah mencintai para ahli Ibadah. Karena Allah menciptakan manusia (dan jin) semata-mata hanya untuk beribadah.
Sikap kita yang abai terhadap panggilan adzan, panggilan lembut Allah, “marilah kita shalat, marilah menuju kemenangan”, menunjukkan bahwa kita tak merasa membutuhkan Allah ? Pernah gak kepikiran kalo semua “undangan shalat” yang tak terbalas, semua sikap kita yang menunda-nunda (shalat), abai terhadap panggilan Allah, sebagaimana abainya seorang pejabat tatkala Presidennya sedang berpidato, ditambah sebukit dosa-dosa kita,bukan saja sekadar mengundang marah, tapi murka-NYA Allah. Lalu dijumlahkan dengan segunung dosa-dosa kita, hasilnya tiket VIP menuju neraka. Naudzubillah minzalik.
Wahai Rabb, tunjukkanlah kami,
pandangan yang kebingungan ini, kepada cahaya-MU,
setitik terang cukup, sebelum masa hilang …
Bimbinglah sesatnya perjalanan kami ke arah jalan-MU yang lurus,
sebelum terhenti …
(Jangan biarkan kami seperti Fira’un,
yang bertobat di tenggorokan,
dan Engkau tolak)
Dan tuntunlah orang-orang yang menjauh dari jalan-MU
untuk kembali merapat ke hidayah-MU
Di pintu-MU, kami Mohon dengan sangat Rabb, Mohon dengan sangat …
Ampuni kami, ampuni kami, ampuni kami …
Ya Rahman,
Ya Rahiim,
Ya Rahman,
Ya Rahiim,
Irhamna Ya Allah,
Irhamna …
(izinkan kami terus menangis)
(Terimakasih Afgan “Pada-Mu kubersujud”, Opick “Rapuh”, dan Dr. Aidh Al Qarni dengan “La Tahzan”-nya)
Selengkapnya...
Tidak banyak di antara generasi muda di Indonesia yang mengetahui bahwa sebenarnya ada problem mendasar di sekitar peristiwa proklamasi Republik Indonesia. Adalah seorang tokoh sejarah bernama KH Firdaus AN yang menyingkap terjadinya pengkhianatan terhadap Islam menjelang, saat, dan setelah kemerdekaan. Menurut beliau semestinya ada sebuah koreksi sejarah yang dilakukan oleh ummat Islam. Koreksi sejarah tersebut menyangkut pembacaan teks proklamasi yang setiap tahun dibacakan dalam upacara kenegaraan.
Dalam penjelasan ensiklopedia bebas wikipedia, naskah proklamasi ditulis tahun 05 karena sesuai dengan tahun Jepang yang kala itu adalah tahun 2605. Berikut isi teks proklamasi yang disusun oleh duet Soekarno-Hatta:
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnj a.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno/Hatta
Teks tersebut merupakan hasil ketikan Sayuti Melik (atau Sajoeti Melik), salah seorang tokoh pemuda yang ikut andil dalam persiapan proklamasi.
Proklamasi kemerdekaan itu diumumkan di rumah Bung Karno, jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada 17 Agustus 1945, hari Jum'at, bulan Ramadhan, pukul 10.00 pagi.
Kritik KH Firdaus AN terhadap teks Proklamasi di atas:
1. Teks Proklamasi seperti tersebut di atas jelas melanggar konsensus, atau kesepakatan bersama yang telah ditetapkan oleh BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 22 Juni 1945.
2. Yang ditetapkan pada 22 Juni 1945 itu ialah, bahwa teks Piagam Jakarta harus dijadikan sebagai Teks Proklamasi atau Deklarasi Kemerdekaan Indonesia.
3. Alasan atau dalih Bung Hatta seperti diceritakan dalam bukunya Sekitar Proklamasi hal. 49, bahwa pada malam tanggal 16 Agustus 1945 itu, 'Tidak seorang di antara kami yang mempunyai teks yang resmi yang dibuat pada tanggal 22 Juni 1945, yang sekarang disebut Piagam Jakarta, ' tidak dapat diterima, karena telah melanggar kaidah-kaidah sejarah yang harus dijunjung tinggi. Mengapa mereka tidak mengambil teks yang resmi itu di rumah beliau di Jl. Diponegoro yang jaraknya cukup dekat, tidak sampai dua menit perjalanan? Mengapa mereka bisa ke rumah Mayjend.
Nisimura, penguasa Jepang yang telah menyerah dan menyempatkan diri untuk bicara cukup lama malam itu, tapi untuk mengambil teks Proklamasi yang resmi dan telah disiapkan sejak dua bulan sebelumnya mereka tidak mau? Sungguh tidak masuk akal jika esok pagi Proklamasi akan diumumkan, jam dua malam masih belum ada teksnya. Dan akhirnya teks itu harus dibuat terburu-buru, ditulis tangan dan penuh dengan coretan, seolah-olah Proklamasi yang amat penting bagi sejarah suatu bangsa itu dibuat terburu-buru tanpa persiapan yang matang!
4. Teks Proklamasi itu bukan hanya ditandatangani oleh 2 (dua) orang tokoh nasional (Soekarno-Hatta) , tetapi harus ditanda-tangani oleh 9 (sembilan) orang tokoh seperti dicantum dalam Piagam Jakarta. Keluar dan menyimpang dari ketentuan tersebut tadi adalah manipulasi dan penyimpangan sejarah yang mestinya harus dihindari. Teks itu tidak otentik dan tidak dapat dipertanggungjawabk an kebenarannya. Deklarasi Kemerdekaan Amerika saja ditandatangani oleh lebih dari 5 (lima) orang tokoh.
5. Teks Proklamasi itu terlalu pendek, hanya terdiri dari dua alinea yang sangat ringkas dan hampa, tidak aspiratif. Ya, tidak mencerminkan aspirasi bangsa Indonesia; tidak mencerminkan cita-cita yang dianut oleh golongan terbesar bangsa ini, yakni para penganut agama Islam. Tak heran banyak pemuda yang menolak teks Proklamasi yang dipandang gegabah itu. Tak ada di dunia, teks Proklamasi atau deklarasi kemerdekaan yang tidak mencerminkan aspirasi bangsanya. Teks Proklamasi itu manipulatif dan merupakan distorsi sejarah, karena tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Dalam sejarah tak ada kata maaf, karena itu harus diluruskan kembali teks Proklamasi yang asli. Adapun teks Proklamasi yang otentik, yang telah disepakati bersama oleh BPUPKI pada 22 Juni 1945 itu sesuai dengan teks atau lafal Piagam Jakarta. Jelasnya, teks proklamasi itu haruslah berbunyi seperti di bawah ini:
PROKLAMASI
Bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia ini harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan. Dan perjuangan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka dengan ini rakyat Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa Indonesia, dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan dalam suatu
susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasarkan kepada ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluknya, menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Jakarta, 22 Juni 1945
Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta, Mr. Ahmad Soebardjo, Abikusno Tjokrosujoso, A.A. Maramis, Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim, KH. Wahid Hasjim, Mr. Muh Yamin.
KH Firdaus AN mengusulkan supaya dilakukan koreksi sejarah. Untuk selanjutnya, demi menghormati musyawarah BPUPKI yang telah bekerja keras mempersiapkan usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, maka semestinya pada setiap peringatan kemerdekaan RI tidak lagi dibacakan teks proklamasi ”darurat” susunan BK-Hatta. Hendaknya kembali kepada orisinalitas teks proklamasi yang otentik seperti tercantum dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945 di atas.
Benarlah Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam yang mensinyalir bahwa dekadensi ummat terjadi secara gradual. Didahului pertama kali oleh terurainya ikatan Islam berupa simpul hukum (aspek kehidupan sosial-kenegaraan) . Tanpa kecuali ini pula yang menimpa negeri ini. Semenjak sebagian founding fathers negeri ini tidak berlaku ”amanah” sejak hari pertama memproklamirkan kemerdekaan maka diikuti dengan terurainya ikatan Islam lainnya sehingga dewasa ini kita lihat begitu banyak orang bahkan terang-terangan meninggalkan kewajiban sholat.
Mereka telah mencoret kata-kata ”syariat Islam” dari teks proklamasi. Bahkan dalam teks proklamasi ”darurat” tersebut nama Allah ta’aala saja tidak dicantumkan, padahal dibacakan di bulan suci Ramadhan..! Seolah kemerdekaan yang diraih bangsa Indonesia tidak ada kaitan dengan pertolongan Allah ta’aala...!
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الْإِسْلَامِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلَاةُ
“Sungguh akan terurai ikatan Islam simpul demi simpul. Setiap satu simpul terlepas maka manusia akan bergantung pada simpul berikutnya. Yang paling awal terurai adalah hukum dan yang paling akhir adalah sholat.” (HR Ahmad 45/134)
Sumber : Ihsan T
Selengkapnya...

Print this page